Anak Banyumas' Blog

Jangan tanyakan apa yang bisa kita dapat,tapi tanyakan apa yang bisa kita beri

Belajar Dari Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Potensi Hutan Indonesia

with 6 comments

Indonesia merupakan negara terbesar ketiga yang mempunyai hutan tropis terluas di dunia dan menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik. Luas hutan hujan tropis Indonesia diperkirakan seluas 1,148,400-an kilometer persegi yang mempunyai kekayaan hayati yang begitu besar, mulai dari tambang, flora dan faunanya. Khusus dari hasil hutannya, hutan tropis Indonesia mempunyai kurang lebih 400 spesies dipterocarp yang merupakan jenis kayu komersial paling berharga di Asia Tenggara.

Melihat potensi yang begitu besar dari hasil hutan Indonesia, tidak salah apabila pemerintah menjadikan sektor kehutanan menjadi salah satu sumber devisa negara yang utama untuk menunjang pertumbuhan ekonomi bangsa. Tetapi dalam praktiknya, dorongan untuk melakukan pertumbuhan ekonomi secara signifikan dengan memanfaatkan potensi hutan tidak diimbangi dengan upaya pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan. Terjadilah eksploitasi besar-besaran terhadap potensi hutan Indonesia. Hutan lindung/konservasi yang sewajarnya menjadi kawasan konservasi dan pemeliharaan lingkungan-pun tidak bisa menghindar dari arogansi investor-investor modal yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Kawasan hutan lindung di Indonesia kini telah mencapai titik rawan, banyak diantaranya telah menjadi kawasan eksploitasi, antara lain hutan lindung Pulau Gag-Papua yang sudah resmi menjadi lokasi proyek PT Gag Nickel/BHP, Taman Nasional Meru Betiri di Jember Jawa Timur oleh PT Jember Metal, Banyuwangi Mineral dan PT Hakman, Tahura Poboya-Paneki oleh PT Citra Palu Mineral/Rio Tinto, Palu (Sulteng), Taman Nasional Kerinci Sebelat oleh PT. Barisan Tropikal Mining dan Sari Agrindo Andalas, hutan lindung Meratus – Kalimantan Selatan oleh PT. Pelsart Resources NL dan Placer Dome, Taman Nasional Lore Lindu – Sulawesi tengah oleh PT. Mandar Uli Minerals/Rio Tinto, dan masih banyak lagi. Sebagai dampaknya, terjadi kerusakan lingkungan dan penurunan mutu ekosistem hutan. Tidak kurang 2 juta ha SDA Indonesia hancur setiap tahunnya. Bencana terjadi hampir di setiap daerah, mulai dari banjir, tanah longsor dan penurunan kualitas tanah yang korbannya tidak lain adalah masyarakat lokal setempat. Ironisnya, masyarakat lokal yang telah memanfaatkan hasil hutan untuk menggantungkan hidupnya dan telah berlangsung selama beratus-ratus tahun tidak menerima hak mereka atas eksploitasi yang dilakukan. Masyarakat setempat yang mempunyai hak atas “hutan adat” lambat laun tersingkir dari pemanfaatan hasil hutan dan terjadi pemiskinan warga lokal. Sebagai contoh, seperti apa yang terjadi di Sumbawa, 62 % keluarga sekitar tambang Newmont Nusa Tenggara terdata sebagai penerima BLT. Hal itu tentunya sebuah ironi karena pemanfaatan potensi tambang tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Oleh karena itu, sudah tidak mengherankan lagi apabila pemerintah, investor, dan masyarakat setempat sering terlibat konflik kepentingan di daerah eksploitasi seperti apa yang terjadi di kawasan Freeport.

Sudah saatnya masyarakat setempat mendapatkan kembali haknya, hak atas tanah nenek moyang mereka. Bersamaan dengan itu, perusakan hutan secara “legal” dan besar-besaran harus dihentikan. Sepantasnya kita berkaca kepada masyarakat lokal/masyarakat adat dalam pengelolaan potensi hutan Indonesia. Masyarakat adat terbukti telah berhasil bertahan hidup selama berabad-abad dengan memanfaatkan hasil hutan secara arif dan menjaga kehidupan ekosistem hutan secara berkesinambungan. Menurut Abdon Nababan (Sekretaris Pelaksana Aliansi Masyarakat Adat Nusantara 2003), kearifan-kearifan lokal yang dipraktikkan oleh masyarakat adat secara garis besar dapat digolongkan menjadi beberapa poin, antara lain : 1) Ketergantungan manusia dengan alam yang mensyaratkan keselarasan hubungan dimana manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri yang harus dijaga keseimbangannya; 2) Penguasaan atas wilayah adat tertentu bersifat eksklusif sebagai hak penguasaan dan/atau kepemilikan bersama komunitas (comunal property resources) atau kolektif yang dikenal sebagai wilayah adat sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan mengelolanya untuk keadilan dan kesejahteraan bersama serta mengamankannya dari eksploitasi pihak luar. Banyak contoh kasus menunjukkan bahwa keutuhan sistem kepemilikan komunal atau kolektif ini bisa mencegah munculnya eksploitasi berlebihan atas lingkungan lokal; 3) Sistem pengetahuan dan struktur pengaturan (‘pemerintahan’) adat memberikan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam pemanfaatan sumberdaya hutan; 4) Sistem alokasi dan penegakan hukum adat untuk mengamankan sumberdaya milik bersama dari penggunaan berlebihan, baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh orang luar komunitas; 5) Mekanisme pemerataan distribusi hasil “panen” sumberdaya alam milik bersama yang bisa meredam kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Adanya hubungan timbal balik dan saling membutuhkan antara alam dan manusia, rasa memiliki hutan sebagai warisan nenek moyang yang harus dijaga dari eksploitasi tanpa “sopan santun”, pemanfaatan hutan sesuai dengan fungsinya, dan pembagian hasil hutan yang merata agar tidak terjadi kecemburuan sosial untuk mencapai kesejahteraan bersama, beberapa hal ini telah menjamin keberlangsungan hidup yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan alamnya  selama berabad-abad. Kearifan lokal inilah yang harus menjadi solusi ditengah perusakan akibat eksploitasi hutan Indonesia.

Masyarakat adat menganggap dirinya sebagai bagian dari alam itu sendiri. Mereka percaya bahwa apabila mereka memperlakukan alam dengan baik, maka alam pun akan memberikan yang terbaik untuk kelangsungan hidup mereka, hal itu mendorong mereka untuk menjalin hubungan baik dengan alam dan menjaga keserasian antara kepentingan manusia dalam pemenuhan kebutuhan dan pelestarian alam sebagai bentuk terima kasih. Tindakan dan kepercayaan seperti itulah yang harus ditanamkan dalam setiap diri manusia, dimana mereka perlu berinteraksi dengan alam, bukan hanya untuk mengambil keuntungan dari hasil alamnya, tetapi juga turut ikut menjaganya demi terus berjalannya siklus hidup yang berkelanjutan.

Dalam hal pemanfaatan hutan, tidak ada salahnya apabila kita sedikit belajar pada masyarakat suku Badui. Masyarakat Badui telah mengenal sistem pembagian wilayah hutan sesuai dengan fungsinya. Dalam pengelolaanya, mereka membagi “hutan adat” mereka menjadi hutan produktif, hutan lindung dan hutan konservasi. Mereka hanya memanfaatkan hutan produktif untuk bercocok tanam dan memenuhi kebutuhan hidup, hutan lindung dan konservasi tetap mereka jaga fungsinya sebagai tempat pelestarian hutan yang pemanfaatannya sangat terbatas. Praktik disiplin dan konsisten layaknya masyarakat Badui sangat perlu untuk diterapkan pada masa dewasa ini guna menunjang pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management) yang sering digembor-gemborkan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat adat menjadi ujung tombak dalam upaya penyelamatan kelestarian hutan Indonesia yang semakin memburuk. Para oknum yang berkepentingan dalam upaya pemanfaatan hutan Indonesia, hendaknya mulai belajar dari kearifan lokal dalam mengelola hutan agar mereka dapat lebih bijak dalam mengeksploitasi potensi hutan. Apabila hal ini bisa terlaksana, bisa dipastikan baik investor, pemerintah maupun masyarakat lokal sekitar dapat mengambil manfaat dari kegiatan eksploitasi yang dilakukan, dan tentunya tetap menjaga hubungan yang harmonis dengan alam sekitar.

Written by susiloadysaputro

8 April 2010 pada 9:51 AM

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. let’s go green bro🙂

    dismas not dimas

    11 April 2010 at 7:42 PM

  2. Victor

    14 April 2010 at 5:17 PM

  3. Hutan adalah aset dunia, terima kasih atas tulisan hebatnya.

    Salam,
    http://www.idebesar.com (Tuliskan Ide Besar Anda)

    IDEBESAR.COM

    15 April 2010 at 3:09 PM

  4. ingat.. ingat pentingnya peran hutan bagi kehidupan…

    Jabon

    1 September 2010 at 11:11 AM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: