Anak Banyumas' Blog

Jangan tanyakan apa yang bisa kita dapat,tapi tanyakan apa yang bisa kita beri

Perempuan dan Rokok: Sebuah emansipasi atau ketidakberdayaan ?

with 5 comments

Dalam rangka memperingati hari Kartini dan mengkampanyekan gerakan pengendalian asap rokok di dalam lingkungan kampus, Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan seminar bertajuk “Perempuan dan Rokok: Sebuah Emansipasi Atau Ketidakberdayaan” yang berlangsung Rabu, (21/04) di Balai Sidang UI. Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB ini menghadirkan beberapa narasumber ahli sebagai pembicara di antaranya Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo S.E, M.A, Ph.D, Dra. Okky Asokawati, dr. Ahmad Hudoyo Sp. P, danDra. Rita Damayanti, MSPH serta dipandu oleh dr. Rohani Budi Prihatin sebagai moderator. Seminar ini mendapat respon yang sangat positif, terbukti dengan banyaknya hadirin yang hadir baik dari kalangan mahasiswa, dosen, peneliti dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Harian Rektor, Dr. Ir. Muhammad Anis. M. Met, mengatakan merokok sudah menjadi suatu kebiasaan tanpa melihat gender dan usia. Sebagai gambaran menurut data statistik, saat ini jumlah perempuan perokok telah mencapai 5% dari total perokok di Indonesia yang berjumlah 62 juta orang. “Jadimerokok bukan hanya dominasi pria semata, tetapi wanita pun juga banyak yang merokok walaupun jumlahnya belum sebanyak pria”, ungkapnya. Lebih lanjut Anis mengatakan larangan merokok menjadi satu hal yang dilematis karena menyangkut berbagai hal, di antaranya petani tembakau, cukai rokok yang menjadi salah satu andalan pemasukan bagi negara, sponsor bagi beberapa pertandingan olah raga serta beasiswa sekolah bagi siswa yang kurang mampu dan berprestasi. Dalam kesempatan ini Anis menegaskan, UI tidak pernah mengijinkan seluruh kegiatan yang mengatasnamakan almamaternya untuk menerima sponsor dari produsen rokok. Hal tersebut merupakan bentuk partisipasi nyata UI untuk mengkampanyekan pengendalian merokok di kalangan mahasiswa. Anis pun mempertanyakan keefektifan kampanye larangan merokok dan fatwa haram merokok, karena menurutnya hal tersebut bukanlah solusi dari permasalahan yang dihadapi.”Seharusnya yang dikampanyekan adalah gerakan anti rokokdan bahaya merokok.Bukan malah menyosialisasikan larangan merokok”, tegas Anis. Di akhir sambutannya, Anis mengajak seluruh hadirin untuk berhenti merokok sekarang juga demi kesehatan Bangsa Indonesia.

Peserta seminar perempuan dan rokok yang membludak

Sesi pertama seminar, Dra. Okky Asokawati berbagi pengalaman ketika ia masih aktif menjadi model. “Saya mulai merokok ketika berusia 17 hingga 34 tahun karena ingin diakui dan diterima di lingkungan pergaulan modelling”, ungkap wanita yang juga menjabat anggota DPR komisi IX ini. Okky menceritakan alasannya terjun sebagai model karena ia ingin tampil, mendapat pengakuan dan ingin terlihat oleh orang lain sebagai orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, walaupun ia tergolong pribadi yang tidak percaya diri dan introvert. “Tetapi setelah saya menjadi model, konsep diri saya jadi lebih baik”, katanya. Okky pun hanya merokok ketika bersama teman-temannya di dunia model, ketika ia berada di kampus, Okky mengaku tidak merokok. Keinginan untuk berhenti merokok muncul ketika Okky ingin memiliki anak. “Jadi saat saya ingin hamil, konsep diri mengenai kesehatan itu berubah. Pola pikir pun juga ikut berubah.Ya sudah, sejak saat itu saya punya keinginan untuk berhenti merokok”, akunya. Okky pun juga tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika berhenti merokok. “Saya tidak perlu mengurangi konsumsi rokok secara perlahan. Tetapi benar-benar berhenti total tidak merokok”, tegasnya. Sedangkan dr. Ahmad Hudoyo Sp. P, memaparkan presentasi berjudul “Dampak Rokok Bagi Kesehatan Perempuan”. Dr. Ahmad memulai presentasinya dengan memaparkan lima alasan perempuan merokok yaitu untuk mengurangi stres, karena pengaruh iklan dan pergaulan, sebagai tindakan feminisme serta ingin tetap langsing. Lebih lanjut ia menjelaskan di dalam rokok terdapat lebih dari 6.000 zat beracun yang dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit, mulai dari bronkitis kronis, jantung, stroke, kanker mulut dan tenggorokan serta osteoporosis dini. Namun menurut dr, Ahmad, semua penyakit ini tidak akan dirasakan langsung oleh perempuan perokok.”Butuh waktu sekitar 40 sampai 50 tahun ke depan baru mereka akan mengalami gejala-gejala penyakit
tersebut”, ungkapnya. Sehingga tidak heran jika banyak yang menganggap walau telah merokok sekian lama, tetapi perokok merasa fisiknya selalu dalam keadaan sehat.

Sedangkan DR. dra. Rita Damayanti dan Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo S.E, M.A, Ph.D memiliki opini serupa. Menurut kedua pembicara ini keluarga miskin merupakan jumlah perokok terbesar di Indonesia. Dr. Rita mengungkapkan menurut penelitian yang ia lakukan di Sukabumitahun 2008, belanja rokok mengalahkan pengeluaran sehari-hari. Sebagai gambaran, rata-rata per bulan keluarga miskin di Indonesia menghabiskan Rp 113.0899 atau sekitar 12,4% dari total pengeluaran mereka selama satu bulan. Padahal dana tersebut bisa dialihkan untuk meningkatkan pemasukan rumah tangga atau untuk menciptakan pekerjaan.”Jadi sudah miskin tetapi merokok pula”, tegas Prof. Sri Moertiningsih.DR. Rita Damayanti pun coba memberikan solusi. “Jadi untuk para istri yang ada di rumah, potonglah jatah suami Anda untuk membeli rokok supaya mereka tidak lagi bisa membeli rokok. Jangan rokoknya yang dikurangi, karena jika itu terjadi maka suami-suami Anda akantetap membeli rokok di tempat lain”, tegasnya. Sedang Prof. Sri Moertiningsih menyarakan agar pemerintah menaikan cukai rokok hingga 57% dari harga asli.”Sehingga yang merokok adalah mereka yang berada di kalangan menengah ke atas. Jadi jika mereka sakit akibat rokok, mereka dapat mengobati penyakit tersebut dan tidak akan membebani pemerintah”, ujarnya.

Sumber : http://www.ui.ac.id/id/news/archive/4297

Written by susiloadysaputro

23 April 2010 pada 10:40 AM

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Menghadapi rokok ini sangat sulit bro memang. Di satu sisi, rokok buruk bagi kesehatan.

    Tapi di sisi lain, sponsor besar untuk even olahraga nasional juga rokok. Rakyat pun banyak yang bekerja di pabrik rokok. ya karena pabrik rokoknya banyak. Rokok ditiadakan, phk bakalan banyak. Hidup makin susah, otomatis kriminalitas meningkat. Kriminalitas meningkat, terjadi ketidaknyamanan dan krisis kepercayaan.

    Ya, rokok kan sebenarnya NARKOTIKA. tapi dihalalkan.

    Kalau ada perokok yang bilang : “badan-badan gue, uang-uang gue, gue juga berhak ngerokok, hak asasi geto loh”

    Lha terus yang nggak ngerokok kan juga berhak mendapat udara yang bersih dan aku yakin jumlah orang yg nggak ngerokok masih lebih banyak dari yang ngerokok.

    sori bro kalau bro ternyata juga perokok… hehehe. Jangan marah oke. tetap bersahabat antar blogger.

    dismas not dimas

    23 April 2010 at 12:50 PM

  2. saya dulu perokok berat, bahkan saya mulai merokok sejak kelas 2 SMP, Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa berhenti merokok., sebenarnya daripada manfaat, rokok lebih banyak mudaratnya. jangan alasan pajak dan tenaga kerja dijadikan alasan untuk pembenaran rokok, itu hanyalah propaganda yg selalu didengung2kan oleh industri rokok.
    anda saja uang yg ada di dalam industri rokok di transferkan ke industri lain yg lebih bermanfaat bukankah masalah2 yg bisa ditimbulkan jika rokok benar2 dilarang bisa diatasi.
    saya ingatkan lagi, rokok sangat membuat orang jadi kecanduan. saya dulu juga sering mengkonsumsi minuman keras, tapi saya lebih mudah berhenti untuk meminum miras daripada berhenti merokok, jadi pada kenyataannya rokok jauh lebih berbahaya daripada miras

    firdausfarisqi

    23 April 2010 at 3:44 PM

  3. merokok boleh aja, asal gak kecanduan. setuju tidak?

    sepertinya emang perlu kampanye tentang bahaya merokok, terutama perempuan, dimulai dari sekolah-sekolah, bisa lewat poster. setuju tidak?

    alhamdulillah aq gk tertarik merokok. anti asap -_- hehe

    hanhan

    25 April 2010 at 5:08 PM

  4. mantap nihh blognya sii anak banyumas😉

    merokok itu disadari atau tidak sudah berbahaya🙂 bahkan , di rokok sendiri pun telah di sebutkan komplikasi penyakitnya ..

    tapi , permasalahan untuk kawula muda disini adalah rasa ingin tahu yang tinggi , sehingga mencoba – coba rokok dan kecanduan..

    tapi , pada intinya banyak faktor yang mempengaruhi orang merokok.. tidak memandang juga MUI yang mengharamkan rokok ..!

    Achmad Zulfikar

    30 April 2010 at 1:16 PM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: