Anak Banyumas' Blog

Jangan tanyakan apa yang bisa kita dapat,tapi tanyakan apa yang bisa kita beri

Pandangan Islam dalam Penanggulangan Sampah

leave a comment »

Permasalahan sampah di Jakarta bukan merupakan hal yang baru. Permasalahan yang telah menahun ini seperti tidak ada habisnya di kota terpadat di Indonesia ini. Dibalik perspektif modern yang gagal menanggulangi masalah pelik ini, Islam mempunyai pandangan sendiri dalam upaya penanggulangan sampah Jakarta.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya dimakan dan jangan dibiarkan untuk setan.” Dalam riwayat yang lain dinyatakan, “sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu, jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.”

Hadits Rasulullah di atas menunjukkan kepada kita betapa ajaran Islam begitu sempurna, syamil dan mutakamil. Islam tidak hanya berbicara tentang ketuhanan, ekonomi, politik, militer (jihad), ibadah mahdhah (ritual), tetapi pada perkara yang kelihatannya cukup sederhanapun tidak pernah luput dari perhatian Rasulullah, sang pengemban risalah Islam.

Hadits perintah menjilati jari setelah makan serta memungut nasi yang jatuh lalu dicuci memang kelihatannya sangat sederhana, bahkan oleh sebagian orang mungkin menganggap hadits ini hadits ’yang menjijikkan’, masa’ setelah makan jari dijilatin, malu dong! Atau, kalau ada nasi yang jatuh, kemudian kita pungut dan cuci lagi, baru kemudian nasinya kita makan, alamak!. Memang, sekilas orang melihat hadits ini ’menjijikkan’, tetapi ketika meneliti dan memahami hadits tersebut dengan lebih seksama, ternyata terdapat pelajaran luar biasa bagi ummat manusia dizaman modern ini.

Sebiji nasi yang jatuh, ketika tidak diambil lagi, secara otomatis statusnya berubah menjadi sampah yang tidak berguna, demikian pula jari yang masih belepotan dengan bekas makanan cokelat atau sambal balado, ketika tidak dijilat dan langsung dibasuh dengan air kobokan, tentu akan lebih mencemari air, dibanding jari yang dijilat terlebih dahulu.

Memang masalah memungut nasi masalah sederhana, tetapi ketika kita tinjau dari kondisi masyarakat yang ada dizaman Rasulullah, ini menunjukkan sebuah langkah yang sangat maju dalam hal pengelolaan sampah, cuma bedanya, dizaman Rasulullah permasalahannya masih sangat sederhana. Nasi yang seharusnya menjadi sampah, oleh Rasulullah dikelola kembali dengan cara dicuci, agar kemudian kembali bermanfaat dan tidak terbuang sia-sia menjadi sampah. Ataupun tangan yang belepotan dengan bekas makanan ketika dicuci dengan air tentu akan mencemari air, tetapi upaya meminimalisir pencemaran air ditunjukkan dan diajarkan oleh Rasulullah bagi masyarakat modern, walaupun dengan cara yang sederhana, yang sesuai dengan kondisi yang ada dizaman disaat itu.

Kita memang tidak akan menemukan ada hadits yang secara sharih (jelas) memerintahkan ummat Islam mengelola sampah, tetapi kalau kita berkaca dari beragam ayat dan riwayat, termasuk hadits sebelumnya, sesungguhnya Islam mengajarkan pemeluknya agar mengelola sampah karena mayoritas sampah bisa dikelola.

Di dalam Islam ada terminologi tabdzir, atau yang biasanya lebih dikenal dengan istilah mubazir. Tabdzir adalah menyia-nyiakan sesuatu yang bisa dimanfaatkan, dan ini dibenci oleh Allah, sampai-sampai disebut sebagai saudaranya setan, Allah berfirman, ”janganlah kalian berbuat tabdzir, karena orang-orang yang mubadzir adalah saudaranya setan, dan setan itu sangat inkar kepada tuhannya.” (QS al Isra’: 27-28).

Ketika sampah bisa kita kelola menjadi sesuatu yang produktif dan memberikan kemaslahatan bagi makhluk Allah, maka orang yang tidak terlibat dalam pengelolaan sampah dengan baik –atas kadar kesanggupannya- , menurut terminologi tabdzir tadi dia akan jatuh dalam perilaku ’saudaranya setan’. Apalagi selama ini, secara tidak kita sadari, setiap harinya setiap orang bisa memproduksi sampah sampai 3 Kg.

Islam juga mengajarkan kita untuk bahu membahu dalam aktifitas kebajikan, Allah berfirman, ”dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan …” (QS. Al Maidah 5 : 2), karena pengelolaan sampah memberikan maslahat besar bagi kita sendiri, anak cucu kita dan alam sekitar kita, tentu ini menjadi aktifitas yang bernilai ibadah di sisi Allah, dan karenanya kita diperintahkan Allah untuk ikut andil dalam segala aktivitas yang memberikan kemaslahatan, termasuk pengelolaan sampah.

Dikutip dari http://batampos.co.id dengan sedikit perubahan isi.

Written by susiloadysaputro

18 Mei 2010 pada 11:43 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: