Anak Banyumas' Blog

Jangan tanyakan apa yang bisa kita dapat,tapi tanyakan apa yang bisa kita beri

Bagaimana Struktur Esai yang Baik

with 6 comments

Oleh : Mardiyah Chamim, Tempo Institute

Secara garis besar esai mengandung tiga bagian utama :

1. Pengantar (introduction)
2. Pengembangan (development of idea)
3. Kesimpulan (conclusion)

Harus diingat bahwa struktur di atas adalah resep generik. Penulis yang piawai bisa membolak-balik komposisi struktur tulisan esainya. Tantangan terpenting adalah esai harus menarik dibaca dan meninggalkan makna yang mengendap di benak pembaca.

Bagian pengantar berisi pokok bahasan, thesis, pertanyaan utama yang diajukan penulis. Pokok bahasan ini bisa berupa pertanyaan, kontroversi, peristiwa yang mengejutkan, fenomena yang tidak biasa, atau sebuah ajakan refleksi.

Berikutnya adalah bagian pengembangan, development of idea. Pada bagian inilah si penulis menyuguhkan argumentasi dan data. Satu demi satu argumentasi, pergulatan pemikiran, disajikan demi terbangunnya sebuah tulisan yang kuat.

Terakhir adalah kesimpulan. Bagian ini tidak harus menyuguhkan solusi, jawaban yang final atas thesis yang diajukan penulis. Pada bagian ini penulis bisa mengajak pembaca untuk mencari solusi, melakukan refleksi, menyajikan alternatif yang segar dan unik, atau sekadar mempertanyakan kebenaran dan kemapanan yang sudah jamak diterima.

Rumuskan Angle Tulisan

Tahap pertama sebelum menulis, rumuskan dulu angle (sudut pandang) yang dipilih. Perumusan angle ini penting karena seorang penulis tidak mungkin bisa menyajikan tulisan dari berbagai sudut pandang. Pemilihan angle yang tajam akan membantu penulis menguraikan gagasan dengan jernih.

Merumuskan angle ini perkara yang gampang tapi susah. Butuh kejelian untuk menyajikan angle yang unik, menarik, dan tidak pasaran. Peristiwa rusaknya pompa bahan bakar ribuan mobil di Jakarta beberapa pekan terakhir, misalnya, bisa dilihat dari beberapa angle:

1. Siapa yang bertanggung jawab pada kerusakan massal yang disinyalir bersumber dari rendahnya kualitas premium tersebut?

2. Mengapa Pertamina, sebagai pemasok satu-satunya premium, tidak kunjung mengadakan investigasi kesalahan yang memicu kerusakan pompa bahan bakar ribuan mobil di Jakarta?

3. Seberapa besar dampak kerusakan ribuan mobil itu pada penurunan produktivitas kaum profesional di Jakarta?

4. Mengapa perusahaan di Indonesia tidak memiliki budaya mempertanggungjawabkan kesalahan dan cenderung menyalahkan konsumen?

Perhatikan, agar tajam, perumusan angle haruslah dikemas dalam kalimat tanya. Gunakan para sahabat setia yang tergabung dalam 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how) untuk menggali beraneka pertanyaan.

Kerangka Tulisan

Penulis esai harus bisa mengungkapkan pendapatnya dalam tulisan yang runtut dan menarik. Gagasan yang disampaikan mesti tersampaikan melalui paragraf demi paragraf yang terhubung secara kompak, logis, dan menarik.

Setelah merumuskan angle, tahap berikutnya adalah membuat kerangka tulisan (outline). Poin-poin yang akan ditulis terlebih dulu dirinci, mulai dari urutan prioritas, kronologi, atau urutan sebab-akibat.

Kerangka tulisan ini berfungi membantu penulis untuk tetap fokus dan setia pada angle yang telah dipilih. Dalam menyusun kerangka tulisan, penting untuk mengetahui apa itu paragraf. Rangkaian paragraf inilah nantinya menyusun sebuah tulisan yang solid.

Secara harafiah, paragraf adalah gabungan beberapa kalimat yang mengusung satu pokok pikiran. Komposisinya adalah: kalimat utama (topic sentence), kalimat pendukung (supporting sentence), dan kalimat penutup (closing sentence).

Hubungan Antar Paragraf

Ada tiga bentuk hubungan antara ide, kalimat, dan paragraf yang berlaku dalam semua tulisan, yakni:

a. Saling menjelaskan dan saling menguatkan, tipe “and”
b. Memberikan alternatif atau cara pandang lain, tipe “or”
c. Negasi terhadap ide pokok, tipe “but”

Hubungan tersebut biasanya tersambung dalam jembatan (bridging) antar paragraf, yang bisa berupa:

1. Kata sambung seperti namun, selain itu, dengan demikian, oleh karena itu, sehubungan dengan itu, dan lain, sebagainya. Catatan, kata-kata sambung seperti ini akan membuat hubungan antar paragraf menjadi kaku, apalagi jika digunakan berulang-ulang. Penulis dianjurkan tidak terlampau sering menggunakan kata sambung jenis ini.

2. Mulai paragraf dengan kata / inti kalimat terakhir yang diambil dari paragraf sebelumnya. Format ini akan membuat tulisan lebih mengalir dan tidak kaku.

sumber : http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/08/09/struktur-esai/

Written by susiloadysaputro

11 Agustus 2010 pada 8:55 PM

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Artikelnya pas buat para pelajar/mahasiswa..
    Tp sepertinya jg pas buat wartawan…:mrgreen:

    • iya kah mas??

      smga bisa bermanfaat la mas buat temen-temen yang lg mau nulis esai..hehe,

      susiloadysaputro

      12 Agustus 2010 at 2:18 PM

  2. wah..sangat bermanfaat neh..

    salam kenal ya…

    fitrimelinda

    12 Agustus 2010 at 8:33 PM

  3. trims buat infonya🙂

    Enoey

    24 Juli 2012 at 1:55 PM

  4. Isinya bagus sangat bermanfaat.

    wiwi

    5 Maret 2013 at 7:24 PM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: